Jika Saya Jadi Presiden (Part 1)
Memang paling enak jadi komentator, cuma bacot aja tapi ga tanggung jawab apapun terhadap cuitannya.
Tapi, kalo langsung disuruh mengelola, saya jamin 99% komentator itu belum tentu lebih baik dari yang dikomentarinya.
Daripada debat,
mana yang lebih baik jadi komentator,
atau jadi yang menjalanakan.
Saya coba memilih berkhayal dahulu.
Khayalan ini gratis, bukan kritik dan bukan makar,
disuruh mengelola juga belum tentu bisa.
Jadi kok rasanya seru jika kita berkhayal untuk kebaikan negeri tercinta ini.
Pertama, sebagai presiden, pulang dari pelantikan, saya akan buat kebijakan menghilang kan PPN.
PPN ini mengganggu ekonomi negara, menjadikan inflasi,
Membuat daya beli berkurang,
Membuat banyak kerepotan bagi Perusahaan yang harus menghitung PPN masukan dan PPN keluaran.
Jadi saya akan hapus semua PPN dipelosok negeri, 11% hilang.
Selain PPN, tentu saja pajak yang ribet2 itu, hanya saya Ganti seperti ini :
Hanya ada satu aturan perpajakan di Indonesia yaitu :
Warga Negara yang penghasilan sebulannya lebih dari 100 juta sebulan, wajib bayar pajak 10% dari penghasilannya.
Inget, dari penghasilannya ya, bukan dari net setelah dipotong gaya hidup.
10% ini untuk apa, akan saya uraikan di artikel selanjutnya. Tapi, sejak hari pertama saya jadi presiden, pajak di Indonesia hanya 1. Pajak penghasilan orang pribadi 10%
Bahkan saya juga membaskan pajak Perusahaan dan pajak dividend.
Kedua, masih di hari pertama, saya juga akan menaikkan gaji PNS dan jajarannya :
Untuk posisi-posisi tertentu,
gajinya harus sangat besar,
cukup untuk beli rumah di kebayoran baru,
cukup untuk bisa beli mobil,
cukup untuk bisa bayar pembantu,
cukup untuk bisa sekolahkan anaknya di sekolah internasional
Sebagai contoh, tanpa gaji sebesar itu,
gaya hidup mereka sudah di level itu,
sudah sanggup beli rumah harga 50 M keatas,
sudah harus pake patwal,
istrinya sudah oplas-oplas kecil,
anaknya juga sekolah di sekolah internasional, party tiap malam.
Lalu kenapa ga negara saja yang fasilitasi, biar sosok tersebut hidupnya tenang, penghasilannya halal, bisa punya segala yang mereka mau.
Sebagai contoh, seorang direktur bank swasta, gajinya bisa 600-700 juta sebulan, setahun berarti bisa 8-10 M.
Kecil sekali untuk ukuran pendapatan sebuah bank, apalagi bank besar.
Oleh sebab itu, mereka masih dikasih tantiem, bonus dari dividend yang bisa mereka bagikan ke pemegang saham.
Jadi , dalam setahun gaji executive swasta bisa dikisaran 50-70 Miliar. Bisa dong kalo buat rumah di Kebayoran Baru, lalu tahun kedua bisa dong buat café estetik untuk dikelola anak-anaknya. Tentu saja halal.
Penerapan ini saya lakukan bertahap, pertama tentu saja penegak hukum, Polisi, Jaksa, Hakim, TNI,..
Gaji seorang Letjen saja saya buat sangat mapan, tidak perlu malak pengusaha lagi untuk membahagiakan anggotanya, tidak perlu melindungi tambang illegal lagi untuk bisa pergi ke Bali main dengan LC.
Semua berkah, gaji besar, fasilitas lengkap, pension juga tenang.
Tapi, semua ini tidak gratis, apabila masih ditemukan penegak hukum masih bermain hukum, tidak hanya dihukum mati, tapi akan dimiskinkan sampai ke akar-akarnya.
Lalu yang ketiga,
Program saya selanjutnya yang merupakan sebuah proyek strategi nasional. PSN.
Program ini udah saya pikirkan sejak lama khusus buat Indonesia.
Saya akan tuliskan dsini sedetail-detailnya, di part selanjutnya...